Di susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Historiografi
Dosen Pengampu : Abd.Rahman S.S.,M.Si
disusun oleh :
Sahmir Gafur
(062207024)
ILMU SEJARAH
FAKULTAS SASTRA DAN BUDAYA
UNIVERSITAS KHAIRUN TERNATE
2010
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tradisi mencatat berbagai peristiwa unik ataupun yang kelak nantinya kan menjadi sumber sejarah ternyata sudah berlangsung lama di Indonesia. Hal itu bisa kita lihat dengan begitu banyaknya prasasti-prasasti yang ditemukan dan menjadi sumber sejarah. Namun sayangnya tradisi menulis tidak begitu banyak diminati bangsa Indonesia. Tinjauan dunia sejarah di Indonesia menunjukkan bahwa Negara ini mempunyai kekayaan yang beraneka ragam, akan tetapi hal ini menjadi berbeda ketika bangsa colonial datang.
Begitu banyak peristiwa yang dialami oleh bangsa Indonesia. Dari zaman kemegahan kerajaan, zaman colonial, dan zaman kemerdekaan. Sayangnya sedikit sekali penduduk Indonesia yang menjadi actor sejaman tidak menulis peristiwa-peristiwa tersebut. Tradisi menulis bangsa Indonesia memang sudah berkembang lama namun sayangnya kurang begitu diminati. Penulisan sebuah peristiwa merupakan sesuatu yang penting, karena untuk merekam sebuah keadaan zaman agar bisa diketahui oleh masa selanjutnya.
Pada perkembangannya sejarah di Indonesia menjadi bias. Hal ini karena tidak ada bukti yang valid, dan kalupun ada ternyata kebanyakan yang menulis adalah bukan orang Indonesia sendiri.Hal ini sangat berkaitan erat dengan historiografi. Historiografi merupakan tulisan-tulisan yang menceritakan peristiwa sejarah.Pola historiografi adalah struktur gagasan yang ditentukan terutama oleh realitas utama yang tidak berakar pada kebutuhan untuk menggambarkan realitas tersebut. Historis bermula dari pertanyaan dan berkembang dari peningkatan kematangan pertanyaan histories sendiri.
Penulisan adalah puncak dari sejarah, sebab apa yang dituliskan itu merupakan peristiwa sejarah. Sejarah sebagaimana yang diceritakan dalam penulisan tersebut mencoba memahami sejarah sebenarnya. Sedangkan untuk periodesasi hanyalah tahap awal dari sejarah. Kecenderungan pada peristiwa yang menyangkut manusia. Dan hal itu hanya bias diketahui dengan melihat rekaman sejaman yang bisa dibaca melalui tulisan.
B. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini ialah :
Apa pengertian dari historiografi ?
Bagaimana perkembangan historiografi di Indonesia ?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
Untuk mengetahui tentang historiografi.
Untuk mengetahui perkembangan historiografi di Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Penulisan Sejarah
Penulisan sejarah (historiografi) menjadi sarana mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian yang diungkap, diuji ( verifikasi ), dan diinterpretasi. Sesuai dengan tugas penelitian sejarah untuk merekonstruksi sejarah masa lampau, maka rekonstruksi itu hanya akan menjadi eksis apabila hasil-hasil penelitian tersebut ditulis ( historiografi ).
Penulisan sejarah tidak semudah dalam penulisan ilmiah lainnya, tidak cukup dengan menghadirkan informasi dan argumentasi. Penulisan sejarah, walaupun terikat pula oleh aturan-aturan logika dan bukti-bukti empirik, tidak boleh dilupakan bahwa ia adalah juga karya sastera yang menuntut kejelasan struktur dan gaya bahasa, aksentuasi serta nada retorika tertentu.
Karya penulisan penelitian sejarah dapat mengambil beberapa bentuk seperti paper, artikel, atau buku, bahkan dalam bentuk buku-buku yang berjilid-jilid. Masing-masing bentuk memiliki prinsip-prinsip yang berbeda, menuntut komposisi dan gaya bahasa, serta jenis-jenis kerja yang berlainan pula. Dalam penulisan ini lebih difokuskan pada prinsip-prinsip penulisan sejarah ilmiah pada umumnya.
Menulis karya penelitian sejarah tidak cukup sekedar meringkaskan hasil-hasil penelitiannya, menuliskan kesimpulan-kesimpulannya tanpa memperhatikan gaya, strategi bagaimana dapat menampilkan kemampuan penulisannya secara efektif, sehingga pembaca dapat diyakinkan dan mau menerima hasil pemahamannya melalui interpretasi mengenai peristiwa, periode, individu dan proses sejarah.
Berikut akan dikembangkan strategi-strategi penulisan dengan mempertimbangkan beberapa hal :
1. Audiens
Pada dasarnya terdapat tiga audiens atau pembaca karya tulis sejarah, pertama penulis sendiri, kedua ilmuwan sejarah ( sejarawan, peneliti dan mahasiswa sejarah ) dan audiens serta pembaca umum, dan karenanya sejarawan harus mampu pula untuk mengambil strategi penulisannya sesuai audiens atau pembaca yang ingin ditujunya:
(a) Penulis atau Peneliti itu Sendiri
Audiens pertama adalah penulis atau peneliti sejarah itu sendiri. Sejarawan yang tidak menulis bagi dirinya sendiri, dalam arti sesuai dengan motivasi, idealisme serta aspirasinya sendiri tidak akan mungkin memperoleh kepuasan diri, serta mencapai puncak kebenaran sebagai diinginkan. Dalam hubungan ini filsuf Pascal menyatakan bahwa : ’’that an essensial guide to the truth is your own assent to yourself, and the constan voice of your own reason.’’
(b) Para Sejarawan : Mahasiswa, Pengajar, dan Ahli sejarah
Audiens kedua terdiri para individu yang paling dekat, ialah para sejarawan sendiri, terdiri dari para mahasiswa, para pengajar dan para ahli sejarah. Apabila sejarawan atau peneliti sendiri ingin karyanya dibaca oleh para ahli di bidangnya sendiri hendaknya ia mengambil strategi yang berbeda dengan audiens-audiens populer. Apabila ingin mencapai keduanya, spesialis ( sejarawan ) dan non spesialis ( non sejarawan ), diseyogyakan peneliti menyusun strategi gabungan, yang memang direncanakan bagi kedua kelompok audiens atau pembaca, ialah dengan membuang teknik khusus perangkat ilmiah seperti catatan kaki dan berbagai lampiran.
(c) Audiens Umum
Audiens atau pembaca ketiga adalah audiens umum ( universal audiens ). Audiens ini terdiri dari semua orang non sejarah yang menaruh minat membaca karya-karya sejarah, baik mereka-mereka yang hidup di saat sekarang msaupun di masa-masa mendatang. Jika peneliti atau sejarawan ingin karyanya dibaca oleh audiens ketiga ini, hendaknya ia harus mampu menunjukkan bahwa karyanya memang tahan uji terhadap perubahan serta perkembangan waktu dan dihormati oleh siapapun yang membaca dan mempelajarinya.
2. Apa yang Harus Ditulis ?
Meskipun kita sering masih mengalami kesulitan untuk menempatkan dan menyaring apa yang harus disajikan dari hasil-hasil penelitiannya, sebenarnya tak ada rahasia apapun dalam proses penyajian tersebut. Apa yang pantas disajikan dalam penulisan penelitian sejarah tidak ada sesuatu yang lain, kecuali dari apa yang dipandang memuaskan bagi penulis sendiri dan bagi audiens atau pembaca-pembacanya. Tidak lebih dan tidak kurang. Dengan mengingatkan kembali apa yang telah dijelaskan dalam pemilihan judul, maka perlulah dipertimbangkan saran-saran menyeleksi dan memperhalus data dan fakta produk penelitian ( Robert Jones Shafer, 1974 : 191-193 ) sebagai berikut :
a. Peristiwa dan bukti cukup tersedia.
b. Subjek yang memberikan afeksi.
c. Subjek yang menarik dan penting.
d. Subjek yang cukup sempit.
e. Subjek yang tidak di luar jangkauan keahlian kita.
f. Subjek yang mengembangkan ketrampilan sendiri.
g. Memiliki kesatuan ( unity ).
3.Gaya Penulisan
Sejarah hanya eksis setelah direkonstruksi dan ditulis oleh sejarawan. Sejarah menjadi hidup karena kata-kata dan gaya bahasa. Gaya dan cara berekspresi merupakan dua hal yang berbeda, dan keduanya mendapat tempat yang sama dalam penulisan sejarah. Dalam pengertian ini sejarah adalah seni, sehingga dalam presentasinya menuntut aneka ketrampilan untuk menyusun deskripsi, eksplanasi, aksentuasi serta persuasi, semuanya itu menggunakan kata-kata, dan itu semua nampak dalam gaya penulisan seorang sejarawan.
Penulisan sejarah ( historiografi ) hendaknya ditulis dalam gaya dan bahasa resmi ( formal ). Karya tulis sejarah baik dalam bentuk paper, artikel, ataupun buku sejarah, bukanlah surat kepada teman, bukan novel,dan bukan pula cerita pendek. Karya tulis ilmiah yang ditulis dengan bahasa dan gaya yang asal-asalan akan sangat menggangu, terutama audiens kedua atau ilmuwan, dan akan menurunkan rasa respek terhadap penulis.
Dengan bahasa resmi ( formal ) tidak berarti harus muluk-muluk ( stilted ) dan bergaya Malahan setiap sejarawan hendaknya berusaha untuk mengembangkan gaya personalnya sendiri dan gaya formal khusus dengan menyatupadukan diri kepribadiaNnya ke dalam gaya bahasa yang digunakannya. Namun demikian, dalam karya-karya tulis formal, personalitas penulis harus selalu mengambil tempat yang kedua sesudah argumentasi.
2. Perkembangan historiografi di Indonesia
a. Historiografi tradisional
Historiografi tradisional pada merupakan ekspresi cultural dari usaha untuk merekam sejarah. Dalam historiografi tradisional ada unsure-unsur yang tidak bisa lepas yaitu sebagai karya imajinatif dan sebagai karya mitologi. Historiografi pada masa klasik diwarnai oleh actor-aktor sentries. Menurut para sejarawan penulisan sejarah ( tidak dalam bentuk prasasti ) di Indonesia dimulai oleh Mpu Prapanca yang mengarang kitab NegaraKertagama. Seorang tokoh, yang menjadi actor utama berperan sebagai pemimpin besar. Hasil karya historiografi tradisional antara lain : Carita Parahyangan, Sajarah Melayu, dan Babad.
Cerita Parahyangan memberikan gambaran mengenai peristiwa sejarah yang pernah terjadi di daerah Jawa Barat. Di dalamnya menceritakan kisah sanjaya yang mengalahkan banyak raja – raja di Asia Tenggara. Sedangkan sejarah Melayu sendiri menceritakan tentang Iskandar Zulkarnaen yang berkuasa di Mesopotamia selama tiga abad. Dari beberapa cerita tadi bisa diambil kesimpulan bahwa :
1. Historiografi pada masa klasik diwarnai oleh actor-aktor sentries. Seorang tokoh, yang menjadi actor utama berperan sebagai pemimpin besar.
2. Historiografi pada masa tersebut sulit dilepaskan dari mitos dan hanya menceritakan kalangan istana saja ( Istana Centirs ).
3. kebanyakan karya-karya tersebut kuat dalam hal geneologi namun lemah dalam hal kronologi.
Corak Historiografi Tradisional
1. Mitos
Bentuk ini pada dasarnya merupakan suatu proses internalisasi dari pengalaman spiritual manusia tentang kenyataan lalu di ungkapkan melalui kisah sejarah
2. Genealogis
Bentuk ini merupakan gambaran mengenai pertautan antara individu dengan yang lain atau suatu generasi dengan generasi berikutnya. Sil silah sangat penting untuk melegitimasikan kedudukan mereka.
3. Kronik.
Dalam penulisan ini sudah ada penulisan kesadaran tentang waktu, Namun demikian juga masih di lingkungan kepercayaan yang bersifat kosmosmagis
4. Annals.
Sebenarnya bentuk ini merupakan cabang dari kronik hanya saja bentuk annals ini sudah lebih maju dan lebih jelas, Sudah berusaha membeberkan kisah dalam uraian waktu.
5.Logis
Kisah yang di ungkapkan mengamdungh mitos, legenda, dongeng, asal usul suatu bangsa, kisah disini merupakan merupakan kisah yang merupakan suatu pembenaran berdasar emosi dan kepercayaan.
6. Supranatural
Dalam hal ini kekuatan kekuatan gaib yang tidak bias diterima dengan akal sehat sering terdapat di dalamnya.
7. Moral tradition
Historiografi jenis ini di sampaikan secara lisan, maka tidak dijamin keutuhan redaksionalnya.
8. Anakronistik
Dalam menempatkan waktu sering terjadi kesalahan kesalahan, pernyataan waktu dengan fakta sejarah termasuk di dalamnya penggunaan kosa kata penggunaan kata nama dll.
9. Etnosentris
Penulisan selalu bersifat kedaerahan, Hanya terpaut pada suku bangsa tertentu. Dan sangaty berpusat pada kedaerahan.
b. Historiografi Kolonial
Historiografi colonial sering di sebut sebagai Eropa Sentris, Penulisan sejarah semacam ini memusatkan perhatiannya kepada belanda sebagai tempat perjalanan baik pelayaran maupun pemukiman di benua lain. Historiografi semacam ini di tulis oleh penulis-penulis orang asing di dunia timur. Mereka kebanyakan tidak memiliki ferifikasi kehidupan bangsa Indonesia. Oleh karena tulisan semacam ini banyak kekurangannya.
Sumber-sumber historiografi kolonial berasal dari dokumen-dokumen VOC, Geewoon Archief dan Gehem Achief, Wilde Vaart; catatan pelayaran orang orang belanda di perairan, Koloniale Verslagen laporan tahunan pemerintah belanda.
Penggunaan faham seperti ini dan sumber-sumber seperti ini mempersempit pandangan internasional terhadap Indonesia, jika di pakai sumber sejarah kekurangannya terletak pada;
Mengabaikan banyak peristiwa peristiwa dari aktivitas bangsa Indonesia
Terlalu sempit dan kurang lengkap
Terlalu berat sebelah
Untuk menghadapi karya semacam ini dapat menulis menggunakan dan memperhatikan langkah langkah sebagai berikut;
Memperluas obyek dengan memperhatikan semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia
Menggunakan pendekatan multidimensional
Menggunakan konsep ilmu social sehingga memahami peristiwa peristiwa yang terjadi
Menekankan mikro history subyek tidak terlalu luas tetapi dikerjakan secara mendalam
Konsep yang digunakan adalah sejarah nasional
Menerapkan metode sejarah analitis.
Menjelang kemerdekaan Indonesia pada masa kemerdekaan telah muncul karya karya yang berisi perlawanan terhadap pemerintah colonial yang di lakukan oleh pahlawan nasional, Secara umum tulisan ini merupakan ekspresi dan semangat nasionalistis yang berkobar kobar. Periode ini disebut sebagai periode post Revolusi atau Historiografi pada masa Pasaca Proklamasi. Tokoh tokoh nasional menjadi symbol kenasionalan dan memberi identitas bagi bangsa Indonesia, Jenis sejarah semacam ini perlu di hargai sebagai fungsi sosiopolitik, yaitu membangkitkan semangat nasional
c. Historiografi Pasca Kemerdekaan
Penulisan sejarah pada masa pasca kemerdekaan didominasi oleh penulisan mengenai peristiwa-peristiwa yang masih hangat waktu itu, yaitu mengenai perjuangan bangsa Indonesia dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Pada masa ini penulisan sejarah meliputi beberapa peristiwa penting, misalnya proklamasi kemerdekaan Indonesia dan pembentukan pemerintahan Republik Indonesia. Kejadian-kejadian sekitar proklamasi kemerdekaan Indonesia yang meliputi sebab-sebab serta akibatnya bagi bangsa ini merupakan sorotan utama para penulis sejarah.
Fokus penulisan sejarah pada masa ini juga mengangkat tentang tokoh-tokoh pahlawan nasional yang telah berjasa dalam memperjuangkan kemerdekaan dan bahkan banyak biografi-biografi tokoh pahlawan nasional yang diterbitkan misalnya saja Teuku Umar, Pangeran Diponegoro, atau Imam Bonjol. Selain biografi tentang pahlawan nasional, banyak juga ditemui tulisan mengenai tokoh pergerakan nasional seperti Kartini, Kiai Haji Wahid Hayim. Biografi-biografi tersebut diterbitkan dimungkinkan karena alasan untuk menumbuhkan rasa nasionalisme diantara kalangan masyarakat. Pada kondisi dimana sebuah Negara beau berdiri, nasionalisme sangatlah penting mengingat masih betapa rapuhnya sebuah Negara tersebut seperti bayi yang baru lahir, sangat rentan terhadap penyakit baik dari dalam maupun dari luar. Dan nasionalisme menjaga keutuhan sebuah Negara tersebut agar tetap tegar dan tumbuh menjadi sebuah Negara yang makmur dikemudian hari.
Pada masa ini mulai muncul lagi penulisan sejarah yang Indonesia sentris yang artinya penulisan sejarah yang mengutamakan atau mempunyai sudut pandang dari Indonesia sendiri. Pada masa sebelumnya yaitu masa colonial, penulisan sejarah sangat Eropa sentris karena yang melakukan penulisan tersebut adalah orang-orang eropa yang mempunyai sudut pandang bahwa orang eropa merupakan yang paling baik. Pada masa kemerdekaan ini penulisan sejarah telah dilakukan oleh bangsa sendiri yang mengenal baik akan keadaan Negara ini, jadi dapat dipastikan bahwa isi dari penulisan tersebut dapat dipercaya. Penulisan sejarah yang Indonesia sentris memang sudah dimulai jauh pada masa kerajaan-kerajaan, tetapi kemudian ketika bangsa barat masuk ke Indonesia maka era penulisan sejarah yang Indonesia sentris mulai meredup dan digantikan oleh historiografi yang eropa sentris.
Penulisan sejarah tentu saja berisi mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu, dan tentu saja sangat berkaitan erat dengan tokoh yang menjadi aktor atau pelaku sejarah tersebut. Pada peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia yang menjadi sorotan utama adalah tokoh nasional yang sering disebut sebagai Dwitunggal yaitu Soekarno dan Moh. Hatta. Dua tokoh inilah yang menjadi tokoh utama dalam peristiwa proklamasi tersebut, disamping tentu saja sangat banyak tokoh-tokoh lain yang turut berperan dalam peristiwa tersebut.
d. Historiografi Indonesia Modern
Historiografi Indonesia modern dimulai sejak diselenggarakannya Seminar Sejarah Nasional Indonesia di Yogyakarta dimulai pada tahun 1957. Semenjak itu penulisan sejarah Indonesia mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi di Indonesia ditulis oleh orang Indonesia sendiri. Sehingga dengan demikian dapat dilihat perkembangan Indonesia-sentris yang mulai beranjak. Tentu saja hal ini sangat berpengaruh bagi perkembangan sejarah itu sendiri. Berbagai peristiwa yang terjadi di Indonesia ditulis oleh orang Indonesia sendiri, dengan demikian tentu saja objektivitasnya dapat dipertanggung jawabkan karena yang menulis sejarah adalah orang yang berada pada saat peristiwa tersebut terjadi atau setidaknya
Pada masa ini juga terdapat terobosan baru, yaitu munculnya peranan-peranan rakyat kecil atau wong cilik sebagai pelaku sejarah yang bisa dibilang diperopori oleh Prof. Sartono kartodirjo. Semenjak itu khasanah historiografi Indonesia bertambah luas. Selama ini penulisan sejarah boleh dikatakan didominasi oleh para tokoh-tokoh besar saja seperti para pahlawan kemerdekaan, ataupun tokoh politik yang berpengaruh. Hal tersebut tentu saja tidak jelek, karena pada masa itu yaitu sekitar kemerdekaan, bisa dibilang historiografi dipakai sebagai pemicu rasa nasionalisme ditengah-tengah masyarakat yang baru tumbuh. Oleh karena itu pada masa itu historiografi hanya berisi mengenai biografi dan penulisan tentang tokoh-tokoh besar saja.
Perpindahan pandangan penulisan sejarah yang semula Eropa-sentris menuju Indonesia-sentris tentu saja sangat berpengaruh bagi perkembangan historiografi selanjutnya. Karena pada masa penjajahan Belanda historiografi Indonesia memiliki ciri Eropa-sentris yaitu lebih memadang bangsa Eropa sebagai yang paling baik, dan bangsa diluar tersebut adalah tidak baik. Tetapi dengan berubahnya pandangan menjadi Indonesia-sentris memungkinkan bangsa Indonesia tidak lagi dipandang sebagai bangsa rendahan. Perkembangan yang terlihat pada penulisan sejarah Indonesia adalah kata-kata “pemberontakan” yang dahulu sering ditulis oleh para sejarawan Eropa kini berganti menjadi “perlawanan” atau “perjuangan” hal tersebut logis karena sebagai bangsa yang terjajah tentu saja harus melawan untuk mendapatkan kemerdekaan dan kebebasan.
Tetapi pada perkembangan setelah Seminar Sejarah tahun 1957 muncul beberapa permasalahan yang tampaknya cukup mengganggu, yaitu para sejarawan cenderung hanya mengekor pada tradisi historiografi colonial, dalam artian para sejarawan tidak dapat memanfaatkan tradisi keilmuan sosial dalam melakukan penelitian sejarah. Pada permasalahan selanjutnya adalah sejarawan seringkali hanya memfokuskan pada persoalan Indonesia saja, padahal ada persoalan besar yang berkaitan dengan dunia swecara global. Tetapi tentu saja hal tersebut kemudian menjadi bahan refleksi untuk perkembangan historiografi selanjutnya.
BAB III
Penutup
Kesimpulan
Dari sudut etimologi historiografi bermula dari bahasa yunani yaitu Historia dan Grapehin. Historia yang berarti gejala alam phisik sedangkan Grafein yang beerarti gambaran, lukisan atau uraian, demikian segara harfiah historiografi dapat di artikan sebagai suatu uraian atau gambaran tentang suatu hasil penelitian dari gejala alam. Namun dalam perkembangan historiografi juga mengalami perkembangan yaitu melalui mengalami perubahan.Historiografi disebut sebagai Sejarah dari sejarahnya atau sejarah penulisan sejarah. Historiografi sering disebut sebagai rekongstruksi yang imaginative, Kemungkinan melalui masa lampau sebagai pengertian yang untuk mengerti dan memunculkan kembali.
Perkembangan historiografi di indonesia dimulai pada zaman kerajaan yang dipelopori oleh empu prapanca yang menulis kitab Negarakertagama. Pada zaman ini yang menjadi penulis sejarah adalah para pujangga-pujangga yang bertujuan untuk memuji dan mengkultuskan Raja sebagai pusat kosmik, dan lebih kepada konsep Istana-sentris. Pada zaman kolonial penulisan sejarah didomisasi oleh orang-orang Eropa yang datang ke Indonesia. Penulisan sejarah pada masa ini bersifat Eropa-sentris. Setelah indonesia merdeka mulailah penulisan sejarah yang didominasi oleh para penulis indonesia dan mulai dimulai konsep Indonesia sentris, tapi pada masa ini yang lebih dominan adalah penulisan tentang tokoh-tokoh pahlawan untuk membangkitkan gairah
Daftar Pustaka
Anggar Kaswati.1998.Metodelogi Sejarah dan Historiografi. Yogyakarta : Beta Offset.
Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah. : edisi Kedua. Yogyakarta : tiara Wacana.
Purwanto,B.2006.Gagalnya Historiografi Indonesiasentrs?!. Yogyakarta : Ombak
Rohaedi,A.1985. Historiografi Daerah : Sebuah Kajian Bandingan. Jakarta : Depdiknas.
Sartono kartodirdjo. 1982. Pemikiran dan Perkembangan Historiograrfi Indonesia : Suatu Alternatif. Jakarta : Gramedia.
Sartono Kartodirdjo. 1968. Jurnal Lembaran Sejarah: Beberapa Vasal dari Historiografi Indonesia. Jogjakarta : Kanisius.
Soedjatmoko,dkk.1995.Historiografi Indonesia Pengantar.Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Tag: historia
Sebelumnya: sistem tanam paksa dan sewa tanah
Selanjutnya : UU Sisdiknas

Tidak ada komentar:
Posting Komentar